Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak mengetahuinya kecuali dari beliau. Telah maklum bahwa setiap perkara yang tidak ditinggalkan kecuali oleh seorang munafik berarti wajib atas setiap individu.
Imam Ahmad dan selain beliau meriwayatkan secara marfu‘: “Seburuk-buruk kekasaran—kekufuran dan kemunafikan—ialah orang yang mendengar panggilan salat tetapi tidak memenuhinya.”
Juga terdapat hadis sahih: “Tangan Allah bersama jamaah; siapa yang menyimpang maka ia menyimpang ke dalam neraka.”
Ibnu ‘Abbas pernah ditanya tentang seorang lelaki yang melaksanakan salat malam dan berpuasa di siang hari tetapi tidak menghadiri salat berjamaah; beliau menjawab, “Ia di neraka.”
Kita memohon kepada Allah keselamatan dan taufik untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya; sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.
Hukum orang yang tertinggal dari salat berjamaah dan syarat sahnya salat berjamaah:
Seseorang yang tertinggal salat berjamaah lalu salat sendirian mempunyai dua keadaan:
Keadaan pertama: ia memiliki uzur syar‘i—seperti sakit atau takut—dan bukan kebiasaannya untuk tidak hadir kalau bukan karena uzur itu; maka dicatat baginya pahala sebagaimana orang yang salat berjamaah, berdasarkan hadis sahih: “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya pahala amalan yang biasa ia kerjakan…”