[Allah Ta‘ala juga berfirman: “Lambung mereka jauh dari tempat tidur; mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tak seorang pun mengetahui apa yang telah disiapkan untuk mereka, sebagai penyejuk mata, sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan salat malam amatlah banyak; karena itu, ibadah sunnah mutlak yang paling utama adalah salat malam. Ia lebih tersembunyi, lebih dekat kepada keikhlasan, dikerjakan saat banyak orang lalai, dan mencerminkan sikap mengutamakan ketaatan di atas tidur dan istirahat.
Disunnahkan melaksanakan salat sunnah pada seluruh waktu selain waktu-waktu terlarang.
Salat malam lebih utama daripada salat di siang hari, dan salat malam yang paling utama adalah yang dilakukan pada sepertiga malam setelah pertengahannya. Dalam hadis sahih disebutkan secara marfū‘: “Salat yang paling utama adalah salat (Nabi) Dawud; beliau tidur separuh malam, bangun sepertiganya, lalu tidur lagi seperenamnya.” Beliau mulai dengan tidur di awal malam, lalu bangun pada pertengahan malam—yakni ketika Allah menyeru: “Adakah yang meminta, maka akan Aku berikan permintaannya?”—kemudian beliau tidur kembali pada seperenam terakhir malam agar tubuhnya beristirahat, sehingga dapat menyongsong salat Subuh dengan penuh semangat. Inilah yang paling utama; namun seluruh malam tetap merupakan waktu untuk qiyam.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Waktu salat malam itu dimulai sejak (selesai) Magrib hingga terbit fajar.”]