[dan ayat-ayat perintah—yakni ayat-ayat yang memerintahkan sujud—lebih-lebih lagi (menuntut untuk dilakukan sujud).
Dari Abu Hurairah r.a. secara marfū‘ disebutkan: “Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu ia bersujud, setan menyingkir sambil menangis dan berkata, ‘Celakalah aku! Anak Adam diperintahkan sujud, lalu ia sujud, maka baginya surga; aku pun diperintahkan sujud, tetapi aku enggan; maka bagiku neraka.’” (HR. Muslim dan Ibnu Mājah).
Sujud tilawah disyariatkan bagi orang yang membaca maupun bagi pendengar yang sengaja menyimak. Dalam hadis Ibnu ‘Umar disebutkan: “Nabi ﷺ membacakan kepada kami sebuah surah yang di dalamnya terdapat ayat sajdah; beliau pun sujud, dan kami sujud bersama beliau.” Hadis ini menunjukkan disyariatkannya sujud bagi pendengar yang memang bermaksud mendengarkan bacaan. Adapun orang yang hanya kebetulan mendengar tanpa berniat menyimak, maka tidak disyariatkan baginya sujud tilawah. Al-Bukhārī meriwayatkan bahwa ‘Utsmān r.a. melewati seseorang yang sedang membaca ayat sajdah; si pembaca pun bersujud, sedangkan ‘Utsmān tidak ikut sujud. Beliau berkata, “Sujud itu hanya bagi orang yang benar-benar mendengarkan.” Riwayat serupa juga datang dari sejumlah sahabat lainnya.
Tempat-tempat sujud tilawah di dalam Al-Qur’an terdapat pada surah: al-A‘rāf, ar-Ra‘d, an-Naḥl, al-Isrā’, Maryam, al-Ḥajj, al-Furqān, an-Naml, Alif Lām Mīm Tanzīl (as-Sajdah), Ḥā Mīm as-Sajdah (Fussilat), an-Najm, al-Insyiqāq, dan Iqra’ bismi rabbik (al-‘Alaq).]