Kemudian ia bertasbih kepada Allah sesudah setiap salat sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji-Nya tiga puluh tiga kali, dan membesarkan-Nya tiga puluh tiga kali, lalu untuk melengkapi seratus membaca: “Lā ilāha illallāh, wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli sya’in qadīr.” Sebab Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bertasbih kepada Allah di akhir setiap salat tiga puluh tiga kali, memuji Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh tiga kali—jumlahnya sembilan puluh sembilan—kemudian melengkapinya menjadi seratus dengan membaca: Lā ilāha illallāh, wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli sya’in qadīr, maka diampuni dosa-dosanya, sekalipun sebanyak buih di lautan.”
Setelah itu ia membaca Ayat Kursi, “Qul huwa Allāhu aḥad,” “Qul a‘ūdzu birabbil-falaq,” dan “Qul a‘ūdzu birabbin-nās.” Sebab an-Nasā’ī dan ath-Thabarānī meriwayatkan dari Abū Umāmah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa membaca Ayat Kursi setelah setiap salat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian,” yakni, antara dirinya dan surga hanya kematian. Dalam hadis lain disebutkan: “Ia berada dalam penjagaan Allah hingga salat berikutnya.” Dalam Sunan, dari ‘Uqbah bin ‘Āmir r.a. disebutkan bahwa beliau berkata: “Rasulullah ﷺ memerintahkanku membaca al-Mu‘awwidzatain (al-Falaq dan an-Nās) sesudah setiap salat.”