seperti keadaannya sebelumnya, karena beliau terus-menerus melakukannya, dan beliau bersabda, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.”
Rukun ketujuh: sujud, yaitu meletakkan dahi di atas tanah dengan bertumpu pada tujuh anggota, dua kali pada setiap rakaat; berdasarkan firman Allah, ﴿وَاسْجُدُوا﴾, serta hadis-hadis tentang perintah Nabi, perbuatan beliau, dan sabdanya, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.”
Ketujuh anggota itu ialah: dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki; maka setiap anggota tersebut harus menyentuh tempat sujud sesuai kemampuan. Sujud adalah rukun salat yang paling agung, dan saat paling dekat seorang hamba kepada Rabb-nya adalah ketika ia sujud; maka keadaan terbaik seorang hamba—saat ia paling dekat kepada Allah—adalah sujud.
Rukun kedelapan: bangkit dari sujud dan duduk di antara dua sujud, berdasarkan perkataan Aisyah (semoga Allah meridainya): “Apabila Nabi mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak bersujud lagi sebelum benar-benar duduk tegak,” (HR. Muslim).