16
[Disyaratkan bagi orang yang memegang jabatan kehakiman agar, sejauh memungkinkan, terpenuhi padanya sepuluh sifat:
- Mukallaf, yaitu telah balig dan berakal; sebab orang yang belum mukallaf berada di bawah perwalian pihak lain, maka ia tidak pantas menjadi wali atas orang lain.
- Laki-laki, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Suatu kaum tidak akan beruntung apabila mereka menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.”
- Merdeka, karena budak tersibukkan dengan hak-hak tuannya.
- Muslim, karena Islam merupakan syarat keadilan; lagi pula tujuan syariat adalah merendahkan orang-orang kafir, sedangkan mengangkat mereka menjadi hakim justru merupakan bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada mereka.
- Adil; maka tidak boleh mengangkat orang fasik, sesuai firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah….” Jika beritanya saja tidak diterima, maka keputusannya tentu lebih tidak layak diterima.
- Mampu mendengar, karena orang tuli tidak mendengar ucapan kedua pihak yang bersengketa.
- Mampu melihat, sebab orang buta tidak mengetahui siapa penggugat dan siapa tergugat.
Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut qiyās mazhab, pengangkatan (hakim buta) dibolehkan sebagaimana kesaksiannya pun dibolehkan; sebab yang ia perlukan hanyalah mengetahui identitas pihak yang bersengketa, dan hal itu tidak mutlak diperlukan. Ia dapat saja memutus perkara berdasarkan deskripsi, sebagaimana Dāwud (‘alaihis-salām) memutus perkara antara dua malaikat yang menyerupai manusia. Bahkan ada pendapat yang menegaskan kebolehannya secara mutlak; ia dapat mengenali para saksi dan para pihak dengan mengetahui nama-nama mereka sebagaimana ia memahami maksud ucapan mereka….”]
ويشترط فيمن يتولى القضاء أن تتوفر فيه عشر صفات تعتبر حسب الإمكان:
أن يكون مكلفا: أي: بالغا عاقلاً؛ لأن غير المكلف تحت ولاية غيره؛ فلا يكون واليا على غيره.
وأن يكون ذكرًا؛ لقوله صلى الله عليه وسل: "ما أفلح قوم ولوا أمرهم امرأة"
أن يكون حرًا؛ لأن الرقيق مشغول بحقوق سيده.
وأن يكون مسلما؛ لأن الإسلام شرط للعدالة، ولأن المطلوب إذلال الكفار، وفي توليته القضاء رفعة واحترام له.
وأن يكون عدلاً؛ فلا تجوز توليه الفاسق؛ لقوله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا﴾ ، وإذا كان لا يقبل خبره؛ فعدم قبول حكمه من باب أولى.
وأن يكون سميعا، لأن الأصم لا يسمع كلام الخصمين.
وأن يكون بصيرًا؛ لأن الأعمى لا يعرف المدعي من المدعي عليه.
وقال شيخ الإسلام ابن تيمية: "قياس المذهب تجوز ولايته كما تجوز شهادته؛ إذ لا يعوزه إلا معرفة عين الخصم، ولا يحتاج إلى ذلك، بل يقضي على موصوف؛ كما قضى داود الملكين، ويتوجه أن يصح مطلقا، ويعرف بأعيان الشهود والخصوم كما يعرف بمعاني كلامهم في