[Kitab Peradilan
Bab: Hukum-hukum Peradilan dalam Islam
Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah berkata, “Wajib menjadikan jabatan kehakiman sebagai ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah; karena ia termasuk amalan yang paling utama. Hanya saja kebanyakan orang menjadi rusak lantaran mencari kedudukan dan harta melaluinya ….” Selesai.
Dasar kewajiban ini adalah al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma‘. Allah Ta‘ālā berfirman, “…dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan,” serta firman-Nya, “Wahai Dāwud, sungguh Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi; maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan benar.”
Nabi ﷺ sendiri memegang urusan kehakiman dan beliau mengangkat para qāḍī di wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Islam; demikian pula para khalifah sepeninggal beliau.
Kaum muslimin berijma‘ tentang keharusan mengangkat qāḍī untuk memutuskan perkara di antara manusia.
Secara bahasa, qaḍāʾ berarti menuntaskan suatu urusan dan menyempurnakannya; Allah Ta‘ālā berfirman, “…lalu Dia menyempurnakan semuanya menjadi tujuh langit dalam dua hari.” Ia memiliki makna-makna lain, sedangkan secara istilah qaḍāʾ adalah menjelaskan hukum syar‘i, mewajibkannya, dan memutus sengketa.]