al-Moulakhas al-FiqhiShalih al-Fauzan

[Dan hewan buruan, setelah terkena dan tertangkap, memiliki dua keadaan:
Keadaan pertama: hewan itu dijumpai masih hidup dengan kehidupan yang stabil; maka ia wajib disembelih dengan sembelihan syar‘i yang telah dijelaskan sebelumnya, dan tidak menjadi halal hanya karena diburu.
Keadaan kedua: hewan itu dijumpai telah mati akibat perburuan, atau masih hidup namun kehidupannya tidak stabil; dalam keadaan ini hewan tersebut halal apabila terpenuhi beberapa syarat.

Syarat pertama: pemburunya harus termasuk orang yang sah menyembelih, yakni sembelihannya halal dimakan. Sebab pemburu berkedudukan seperti penyembelih, sehingga disyaratkan ia layak: berakal dan beragama Islam atau Ahli Kitab. Karena itu tidak halal hewan yang diburu oleh orang gila atau mabuk—karena tidak berakal—dan tidak pula yang diburu oleh Majusi, penyembah berhala, dan selain mereka dari golongan kafir, sebagaimana sembelihan mereka pun tidak halal.

Syarat kedua: alat, dan alat ini terbagi dua:

  1. Alat tajam. Padanya berlaku syarat yang sama dengan alat sembelih: mampu mengalirkan darah, bukan berupa gigi atau kuku, serta melukai hewan buruan dengan ketajamannya, bukan dengan beratnya. Apabila alat yang dipakai membunuh hewan buruan bukan alat tajam—seperti batu, tongkat, jerat, jaring, atau potongan besi—maka hewan yang terbunuh dengannya tidak halal; kecuali peluru yang ditembakkan dari senapan masa kini, maka halal hewan yang terbunuh karenanya, karena daya dorongnya menembus dan mengalirkan darah layaknya alat tajam bahkan lebih kuat.
  2. Binatang pemburu, baik anjing maupun burung yang dipakai berburu; maka halal hewan yang dibunuhnya apabila binatang itu terlatih, baik yang berburu dengan taringnya seperti anjing maupun dengan cakarnya seperti burung. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang telah kalian ajarkan dari hewan-hewan pemburu yang kalian latih—kalian melatihnya sebagaimana Allah telah mengajar kalian—”, yakni kalian mendidik mereka dengan adab menangkap buruan dari ilmu yang…]
والصيد بعد إصابته وإمساكه له حالتان: الحالة الأولى: أن يدرك وهو حي حياة مستقرة؛ فهذا ل بد من ذكاته الذكاة الشرعية التي سبق بيانها، ولا يحل بالاصطياد. الحالة الثانية: أن يدرك مقتولاً بالاصطياد، أو حيا حياة غير مستقرة؛ ففي هذه الحالة يكون حلالاً إذا توفرت شروط. الشرط الأول: أن يكون الصائد من أهل الذكاة؛ أي: ممن تحل ذبيحته؛ لأن الصائد بمنزلة المذكي، فيشترط فيه الأهلية؛ بأن يكون عاقلاً مسلما أو كتابيا؛ فلا يحل ما صاده مجنون أو سكران؛ لعدم العقلية، ولا ما صاده مجوسي أو ثني ونحوه من سائر الكفار، كما لا تحل ذكاتهم. الشرط الثاني: الآلة، وهي نوعان: الأول: محدد يشترط فيه ما يشترط في آلة الذبح؛ بأن ينهر الدم، ويكون غير سن وظفر، وأن يجرح الصيد بحده لا بثقله، فإذا كانت الآلة التي قتل بها الصيد غير محددة؛ كالحصاة والعصا والفخ والشبكة وقطع الحديد، فإنه لا يحل ما قتل به من الصيد؛ إلا الرصاص الذي يطلق من البنادق اليوم، فيحل ما قتل به من الصيد؛ لأن فيه قوة الدفع التي تخرق وتنهر الدم كالمحدد وأشد. الثاني: الجارحة من الكلاب والطيور التي يصاد بها، فيباح ما قتلته من الصيد إن كانت معلمة، سواء كانت مما يصيد بنابه كالكلب أو بمخلبه كالطير؛ لقوله تعالى: ﴿وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ﴾ ؛ أي: تؤدبونهن آداب أخذ الصيد من العلم الذي

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie