jika engkau mampu agar tak seorang pun melihatnya, maka jangan biarkan seorang pun melihatnya.” Aku bertanya, “Bagaimana bila salah seorang dari kami sedang sendirian?” Beliau bersabda, “Allah lebih berhak untuk kau malui.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya).
Allah menyebut menyingkap aurat sebagai perbuatan keji ketika menceritakan orang-orang kafir: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakannya dan Allah memerintahkan kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.’” Dahulu mereka bertawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang dan menganggapnya bagian dari agama. Padahal membuka aurat dan memandangnya menyeret kepada bahaya besar, menjadi jalan menuju perzinaan dan runtuhnya akhlak—sebagaimana tampak pada masyarakat permisif yang telah kehilangan kehormatannya dan meruntuhkan moralitasnya; kemungkaran meluas dan kebajikan lenyap.
Maka menutup aurat adalah penjaga kemuliaan dan akhlak. Karena itu setan sangat bernafsu membujuk anak-anak Adam agar menyingkap aurat; Allah telah memperingatkan kita: “Wahai anak-anak Adam, janganlah setan memperdaya kalian sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga; ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat mereka.”
Membuka aurat adalah tipu daya setan yang kini menimpa banyak masyarakat; mereka bahkan menamakannya kemajuan dan seni. Muncullah klub-klub telanjang dan maraknya pakaian terbuka pada kaum perempuan, sehingga mereka mempertontonkan tubuh di hadapan laki-laki tanpa rasa malu dan tanpa rasa segan.